Surade (KEMENAG)
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) MAN 3 Sukabumi tidak hanya membekali peserta dengan pemahaman kepemimpinan, tetapi juga mengasah kemampuan menghadapi persoalan dan mengambil keputusan secara bijak. Penguatan tersebut diberikan melalui materi Problem Solving dan Pengambilan Keputusan yang disampaikan Yuli Yuniar, S.Pd., selaku narasumber sekaligus fasilitator pada Sabtu (3/10/2026).
Materi diikuti pengurus OSIS, MPK, serta perwakilan ekstrakurikuler bidang akademik dan nonakademik. Peserta diarahkan untuk mengenali persoalan, menganalisis penyebab, menyusun alternatif solusi, mempertimbangkan konsekuensi, dan menentukan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pembelajaran, Yuli menghadirkan sejumlah studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa di madrasah. Di antaranya penggunaan kosmetik secara berlebihan, ketentuan seragam dan rambut, kebiasaan keluar madrasah melalui pagar, parkir kendaraan di luar area madrasah, sikap kepada guru, penggunaan telepon genggam saat pembelajaran, kepemimpinan ketua OSIS perempuan, konflik dalam grup percakapan, titip absen, keseimbangan antara organisasi dan kewajiban belajar, serta tekanan teman sebaya.
Studi kasus tersebut digunakan sebagai bahan refleksi dan pembelajaran bersama, bukan untuk menyoroti individu atau kelompok tertentu. Peserta diajak memahami bahwa penyelesaian persoalan membutuhkan kemampuan melihat akar masalah dan mencari solusi yang tepat, bukan sekadar menentukan pihak yang dianggap bersalah.
Setelah sesi pembelajaran di aula, kegiatan dilanjutkan di ruang terbuka melalui ice breaking sebelum memasuki praktik kelompok. Peserta kemudian dibagi secara acak menjadi 10 kelompok. Setiap kelompok memperoleh satu studi kasus dan diberi waktu tujuh menit untuk mengidentifikasi persoalan, menganalisis penyebab, menyusun alternatif penyelesaian, dan menentukan keputusan.
Diskusi berlangsung dengan melibatkan seluruh anggota kelompok. Peserta belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, mengelola perbedaan, membangun argumentasi, serta mencapai kesepakatan melalui musyawarah. Perwakilan kelompok selanjutnya mempresentasikan hasil pembahasan sekaligus menjelaskan alasan dan dampak dari keputusan yang mereka pilih.
“Problem solving bukan sekadar mencari siapa yang melanggar atau siapa yang harus diberi sanksi. Yang lebih penting adalah memahami masalah, mencari akar penyebab, mempertimbangkan pilihan, melihat konsekuensi, kemudian mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” ungkap Yuli.
Menurut Yuli, kemampuan tersebut penting bagi pengurus OSIS, MPK, dan ekstrakurikuler karena organisasi siswa menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang menuntut kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, mengelola perbedaan, serta memberikan keteladanan.
Sebagai tindak lanjut, setiap kelompok menyusun poin-poin solusi berdasarkan studi kasus yang dibahas. Gagasan tersebut dapat dimusyawarahkan kembali dan menjadi bahan pertimbangan bagi madrasah dalam penguatan pembinaan siswa dan budaya madrasah.
Plt. Kepala MAN 3 Sukabumi, H. Sarifudin, S.Pd., M.M., menyambut baik pembelajaran yang memberikan ruang kepada siswa untuk menyampaikan gagasan berdasarkan pengalaman dan persoalan yang mereka temui di lingkungan madrasah.
“Ide dan gagasan yang disampaikan para siswa dalam kegiatan problem solving dan pengambilan keputusan, terutama yang berangkat dari studi kasus nyata di madrasah, harus menjadi bahan pemikiran dan bahan evaluasi bersama. Gagasan tersebut perlu dikaji, dimusyawarahkan, dan jika memungkinkan ditindaklanjuti menjadi bagian dari upaya perbaikan budaya dan tata kehidupan siswa di madrasah,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa OSIS, MPK, dan ekstrakurikuler bukan sekadar wadah kegiatan siswa, tetapi juga memiliki peran dalam membangun budaya positif di lingkungan madrasah.
“Menjadi pengurus bukan berarti memiliki keistimewaan, tetapi memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan contoh. Kepemimpinan siswa harus ditunjukkan melalui keteladanan, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil,” tambahnya.
Melalui materi problem solving dan pengambilan keputusan tersebut, LDKS MAN 3 Sukabumi diarahkan tidak berhenti pada pemahaman konsep kepemimpinan. Peserta diharapkan mampu menerapkan pembelajaran dalam kehidupan organisasi dan keseharian sebagai pelajar, sehingga OSIS, MPK, dan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan sekaligus mitra madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan yang tertib, berkarakter, dan kondusif.
Kontributor: MAN 3 Sukabumi
Editor: Dindin M
Fotografer: Humas Kemenag Kabupaten Sukabumi






