Bojonggenteng (KEMENAG)
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bojonggenteng mengimplementasikan Program Ekoteologi Kementerian Agama melalui keterlibatan calon pengantin dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) di Kantor KUA Bojonggenteng, Jumat (29/5/2026).
Program ini sejalan dengan gerakan Pepeling (Pengantin Peduli Lingkungan) yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Melalui program tersebut, setiap calon pengantin didorong untuk membawa bibit pohon yang selanjutnya ditanam sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.
Kepala KUA Kecamatan Bojonggenteng, Asep Irwan Iskandar, S.Ag., M.H., menjelaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari implementasi ajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai amanah dari Allah SWT.
“Melalui program Ekoteologi, Kementerian Agama mengajak masyarakat untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan. Karena itu, kami mengajak calon pengantin untuk turut berkontribusi melalui penanaman pohon sebagai simbol kepedulian terhadap masa depan bumi dan generasi mendatang,” ujarnya.
Menurut Asep, keterlibatan calon pengantin dalam program tersebut memiliki makna yang mendalam. Selain menjadi simbol awal kehidupan rumah tangga yang baru, penanaman pohon juga mencerminkan harapan agar keluarga yang dibangun dapat tumbuh kuat, memberikan manfaat, serta membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya.
Program Ekoteologi menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama yang mendorong penguatan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama. Melalui pendekatan tersebut, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan pembangunan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual setiap umat beragama.
KUA Kecamatan Bojonggenteng berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan mendapat dukungan masyarakat luas, sehingga tercipta budaya peduli lingkungan yang dimulai dari lingkungan keluarga. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi pusat pendidikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi agen pelestarian lingkungan bagi generasi yang akan datang.
Kontributor: KUA Bojonggenteng
Editor: Dindin M
Fotografer: Humas Kemenag Kabupaten Sukabumi







