Ciracap (KEMENAG)
Menjelang fenomena Istiwa A’zham (Rashdul Kiblat) yang akan berlangsung pada 15–16 Juli 2026, SMPN 1 Ciracap bersama KUA Kecamatan Ciracap menggelar simulasi Rashdul Kiblat sebagai media pembelajaran yang memadukan sains, astronomi, dan nilai-nilai keislaman. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (13/7/2026) itu diikuti oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari persiapan menyambut Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat.
Simulasi dilaksanakan di halaman sekolah dengan memanfaatkan tiang bendera sebagai objek tegak untuk mengamati arah bayangan matahari. Melalui praktik tersebut, para peserta mempelajari cara menentukan arah kiblat secara sederhana, mudah, dan akurat berdasarkan fenomena astronomi saat matahari berada tepat di atas Ka’bah. Metode ini memberikan pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan syariat Islam.
Setelah simulasi, kegiatan dilanjutkan dengan deklarasi dukungan menyukseskan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat. Deklarasi diikuti oleh Kepala KUA Ciracap beserta penghulu dan penyuluh agama Islam, bersama kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan SMPN 1 Ciracap sebagai bentuk komitmen bersama dalam menyukseskan gerakan tersebut. Sebagai tindak lanjut, deklarasi bersama para siswa dijadwalkan akan dilaksanakan pada Selasa atau Rabu agar seluruh warga sekolah turut berpartisipasi dalam momentum Rashdul Kiblat.
Guru Pendidikan Agama Islam SMPN 1 Ciracap, Ustadz Romli, mengatakan bahwa simulasi Rashdul Kiblat menjadi pengalaman belajar yang menarik karena menghubungkan teori dengan praktik secara langsung.
“Kegiatan ini sangat relevan dikenalkan kepada peserta didik. Melalui simulasi, para guru memperoleh pemahaman yang nantinya dapat diteruskan kepada siswa. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memahami cara memastikan arah kiblat melalui pengamatan langsung. Insya Allah, deklarasi bersama para siswa akan kami laksanakan sebagai bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat,” ujarnya.
Kepala KUA Ciracap, H. Sulaeman Jamal, S.Ag., menegaskan bahwa fenomena Istiwa A’zham merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengenalkan ilmu falak kepada Generasi Z. Menurutnya, pembelajaran berbasis observasi seperti ini mampu menumbuhkan cara berpikir ilmiah sekaligus memperkuat keimanan peserta didik.
“Bagi generasi muda, Rashdul Kiblat bukan sekadar belajar menentukan arah kiblat. Mereka diajak mengamati fenomena alam, memahami keteraturan pergerakan matahari, sekaligus menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan ajaran Islam saling menguatkan. Ketika siswa menyaksikan sendiri bagaimana bayangan matahari menunjukkan arah kiblat, mereka belajar berpikir ilmiah, mengenal ilmu falak, serta semakin mengagumi kebesaran Allah SWT melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta. Inilah pembelajaran yang relevan, menarik, dan menginspirasi bagi Generasi Z,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara SMPN 1 Ciracap dan KUA Ciracap, momentum Istiwa A’zham diharapkan tidak hanya menjadi fenomena astronomi tahunan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang memperkuat literasi sains, astronomi, dan ilmu falak di kalangan pelajar. Sinergi ini sekaligus diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya ketepatan arah kiblat serta rasa syukur kepada Allah SWT atas keteraturan alam semesta sebagai tanda kebesaran-Nya.
Kontributor: KUA Ciracap
Editor: Dindin M
Fotografer: Humas Kemenag Kabupaten Sukabumi







