Bojonggenteng (KEMENAG)
Penyuluh Agama Islam KUA Bojonggenteng, Saepul Hidayat, S.Pd., melaksanakan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Pasir Bentik, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bojonggenteng, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Keterbatasan Ilmu” dan diikuti oleh jamaah majelis taklim.
Dalam penyampaiannya, Saepul Hidayat mengajak jamaah memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam memperoleh, memahami, dan menguasai ilmu pengetahuan. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap rendah hati dalam menuntut ilmu serta mendorong setiap orang untuk terus meningkatkan wawasan dan pemahaman keagamaan.
Saepul menjelaskan, terdapat tiga faktor yang menjadi bagian dari keterbatasan ilmu manusia, yaitu faktor kitab, faktor kauniyah, dan faktor kososiah. Faktor kitab berkaitan dengan keterbatasan manusia dalam membaca dan memahami berbagai sumber ilmu, sedangkan faktor kauniyah berkaitan dengan luasnya alam semesta dan kompleksitas ciptaan Allah Swt. yang tidak seluruhnya mampu diketahui manusia.
Sementara itu, faktor kososiah berkaitan dengan keterbatasan manusia dalam memahami berbagai persoalan dan realitas kehidupan. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima, mengolah, dan memahami suatu pengetahuan.
“Manusia diberikan kemampuan untuk belajar dan memahami berbagai ilmu pengetahuan, tetapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas. Karena itu, kita harus menyadari keterbatasan diri, terus berusaha menambah ilmu, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.,” ujar Saepul Hidayat.
Ia menambahkan, kesadaran terhadap keterbatasan ilmu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar. Sebaliknya, hal tersebut perlu menjadi motivasi untuk terus menuntut ilmu, menghargai pengetahuan orang lain, dan tidak merasa paling mengetahui dalam menghadapi berbagai persoalan.
Kepala KUA Bojonggenteng, Iwan Setiawan, S.Sy., mengapresiasi pelaksanaan Bimluh tersebut. Menurutnya, penyuluhan keagamaan merupakan bagian penting dari tugas KUA dalam memberikan edukasi dan pemahaman keagamaan kepada masyarakat. “Materi tentang keterbatasan ilmu menjadi pengingat bagi kita untuk tetap rendah hati, terus belajar, dan tidak mudah merasa paling benar dalam memahami suatu persoalan. Penyuluhan seperti ini perlu terus dihadirkan dengan materi yang relevan dengan kehidupan masyarakat,” ungkap Iwan Setiawan.
Kontributor: KUA Bojonggenteng
Editor: Dindin M
Fotografer: Humas Kemenag Kabupaten Sukabumi







